MASYAALLAH...!!! Loh, istrinya ke mana aja? Kok suami disuruh jaga anak? Begini Jawab Pria Ini...!!! MOHON DI BAGIKAN...!!!
" Loh, istrinya ke mana aja? Kok suami diminta jagalah anak? " Tulis sebuah komentar di photo profil gw yg gambar kartun ngayun anak itu.
" Pengangguran ya mas? Kasian banget jagalah anak ", kata komentar yg lain.
" Istrinya gak bener nih. Kalo bini gw seperti gini, gw udah bla-bla-bla... " Dan masih banyak lagi komentar miring yang lain.
Lucunya, komen-komen seperti ini senantiasa saja ada. Nyelip di gambar, photo, atau bahkan status joke sekalipun.
Btw, sebelumnya gw akui gw memanglah paling tidak sering balas komentar. Jika pernah gw like saja. Ini karena terbatasnya saat online. Setelah posting, umumnya gw segera off. Ingin disebut hit and run, ya bolehlah.
Namun janganlah sangka gw tidak care. Setiap komentar masuk, tidak ada yg luput gw baca walaupun sering telat.
Nah, komen-komen seperti yg tadi itu umumnya kepikiran juga. Kebetulan gw orangnya rada baper sih. Wkwk..
Namun baiknya memanglah tiap-tiap komen mesti siap di terima sebagai kemungkinan. Namanya juga sosial media. Terdapat beberapa langkah orang membongkar isi rumahmu serta seakan tahu tiap-tiap sudutnya, tanpa ada pernah meskipun masuk atau sebatas mencapai pekarangan.
Okeh.. Sekian opening sok asyik, saat ini kita kembali pada masalah jagalah anak.
Ada banyak yg beranggapan aktivitas jaga anak ini sebagai domain wanita. Lelaki baiknya bekerja mencari nafkah saja, tabu jika diminta jagalah anak. Walau sebenarnya ini menurut gw salah.
Saat ini tidak zaman lagi superioritas suami dalam rumah tangga. Tidak butuh lagi pake mentang-mentang. Rumah tangga yg dibangun di atas tiang agama, pasti bakal memahami posisi masing-masing.
Lagian, tanpa ada dispesialkan juga pada dasarnya kita golongan suami telah khusus kok. Seperti martabak, yg telornya dua itu pasti khusus. Eeh sorry, tidak nemu perumpamaan yg lebih beradab. Wkwk..
Katakanlah gw sampel subyektifnya. Sepanjang gw dan istri bisa kerjasama untuk saat system shift, mengapa tidak? Jadi baby sitter part time tidak bakal bikin derajat jatuh, meyakini deh, tidak butuh diukur pakai termometer derajat celcius.
Kebetulan kami di dukung kondisi. Gw kerjanya malam, istri kerja pagi hingga siang.
Mengapa istri mesti bekerja?
Ya, lantaran suami tidak pernah tau bedanya lipstik 50k, serta... Plakkk!! Cukup.. Cukup.. Itu telah basi woy!
Pekerjaan istri gw sesungguhnya tambah lebih mulia. Waktu gw dirumah bertanggungjawab pada keselamatan dua orang anak, di waktu yg sama istri gw bertanggungjawab pada keselamatan beberapa puluh bahkan juga seratusan anak-anak.
Istri gw juru imunisasi di Puskesmas. Setiap hari nyuntik anak di posyandu-posyandu. Pernah sekali saat gw cobalah iseng temanin, serta satu hari saja gw nyerah. Hadapi anak orang nyatanya perlu kesabaran level expert. Anak sendiri jika dipelototin diem. Anak orang dipelototin eeh jadi nangis kejer, buat cemas.
Belum lagi tempat posyandu yg tidak sama. Ada yg medannya berat serta tidak dapat dijangkau kendaraan. Istri gw telah punya kebiasaan mendaki gunung, lalui lembah. Sungai mengalir indah ke samudera, berbarengan rekan bertualang.
Melindungi anak ada seninya. Belum sampai maqom seseorang lelaki sebelumnya rasakan dipipisin atau diberakin.
Cobalah katakan tantangan terekstrim yg menguji keberanian serta adrenalin seseorang lelaki. Selfie di ketinggian? Diving di kedalaman lautan? Umum itu mah..
Nah, cobalah berani tidak nyebokin anak dengan feses mencret atau mengisap ingusnya yg terhalang pakai mulut? Jika berani, baru gw jempol.
Anak yaitu tanggung jawab sekalian konsekwensi perkawinan. Janganlah nikah cuma ingin nikmatnya tidak ingin anaknya.
Melindungi anak mengajarkan kita kesabaran, serta dengan sendirinya bakal mengerti pola rutinitas. Istimewanya, kita dapat mengontrol sendiri perubahan anak, serta melatih insting dan kewaspadaan. Kewaspadaan ini yg paling utama, mengingat bahaya meneror jiwa anak setiap waktu.
Barusan membaca satu berita, seseorang bayi umur empat bln. di Medan mendadak buta sesudah difoto. Mata si bayi nampaknya belum kuat terima kilatan flash. Ini peringatan untuk yg suka photo selfie bareng bayi.
Di makassar lain lagi. Ada bayi baru lahir yg mendadak wafat dunia sesudah kaget mendengar nada petasan.
Ada pula berita di tivi, balita wafat selesai ngemut rambutan serta nyangkut di kerongkongan.
Terlebih dulu, gw sempat juga baca, bayi tewas dengan lidah melepuh sesudah menggigit-gigit ujung charger yg masihlah melekat di colokan tempat tinggalnya. Ujung charger yg lunak serta mudah dirusakkan nyatanya masihlah menghantar aliran listrik. Ini yg paling banyak diremehkan di rumah tangga. Tetangga gw jadi ada yg anaknya wafat dunia dengan muka tertimpa besi kaitan ayunan sesudah tali ayunannya lepas lantaran tidak diikat kuat.
Nyaris sehari-hari, kita disajikan kabar berita anak-anak celaka atau tewas lewat cara yg tidak umum. Ujung-ujungnya kelalaian pengasuh yg jadi pemicunya.
Nah, ini dapat yg buat gw cemas jika umpamanya anak gw mesti dijaga oleh orang lain. Meskipun maut mengintai tidak pandang bulu, sekurang-kurangnya insting orangtua pada darah daging terang beda dengan orang lain yg menjaganya.
Di sekitaran rumah gw sesungguhnya banyak tempat atau panti penitipan anak. Bukannya tidak yakin atau tidak ada anggarannya, namun rasa-rasanya tidak ikhlas saja membagi saat dengan orang lain sepanjang masihlah dapat menjalaninya.
Di kota-kota besar, beberapa orang setuju membuat arti quality time pada akhir minggu, membuatnya khusus, terkadang isi dengan rekreasi, untuk menutupi quantity time yg tidak dapat mereka berikanlah pada anak. Nah, saat kita di beri peluang untuk jadikan sehari-hari jadi quality time, ngapain disia-siakan?
Gw terkadang merinding memikirkan jika umpamanya anak gw titipkan di panti anak dengan argumen aktivitas, tidak ada jaminan nantinya di masa datang polanya bakal berulang, ubahan gw yg dititipkan juga di panti jompo dengan argumen anak-anak repot. Hiiiy.. Amit-amit.
Sesungguhnya tidak ada yg salah dengan panti penitipan anak. Toh ini banyak juga menolong. Namun sepanjang tidak ada udzur atau argumen yg membetulkan ya baiknya dihandle sendiri, mengingat saat kecil anak tidak terulang 2 x. Materi dapat di cari, namun peluang yg hilang pasti disesali masa datang. Hoanjrit.. Sok bijak banget ini orang. Wkwk..
Asumsinya, anak yaitu titipan Tuhan. Jika titipan itu dititipkan lagi, haiyya...
" Pengangguran ya mas? Kasian banget jagalah anak ", kata komentar yg lain.
" Istrinya gak bener nih. Kalo bini gw seperti gini, gw udah bla-bla-bla... " Dan masih banyak lagi komentar miring yang lain.
Lucunya, komen-komen seperti ini senantiasa saja ada. Nyelip di gambar, photo, atau bahkan status joke sekalipun.
Btw, sebelumnya gw akui gw memanglah paling tidak sering balas komentar. Jika pernah gw like saja. Ini karena terbatasnya saat online. Setelah posting, umumnya gw segera off. Ingin disebut hit and run, ya bolehlah.
Namun janganlah sangka gw tidak care. Setiap komentar masuk, tidak ada yg luput gw baca walaupun sering telat.
Nah, komen-komen seperti yg tadi itu umumnya kepikiran juga. Kebetulan gw orangnya rada baper sih. Wkwk..
Namun baiknya memanglah tiap-tiap komen mesti siap di terima sebagai kemungkinan. Namanya juga sosial media. Terdapat beberapa langkah orang membongkar isi rumahmu serta seakan tahu tiap-tiap sudutnya, tanpa ada pernah meskipun masuk atau sebatas mencapai pekarangan.
Okeh.. Sekian opening sok asyik, saat ini kita kembali pada masalah jagalah anak.
Ada banyak yg beranggapan aktivitas jaga anak ini sebagai domain wanita. Lelaki baiknya bekerja mencari nafkah saja, tabu jika diminta jagalah anak. Walau sebenarnya ini menurut gw salah.
Saat ini tidak zaman lagi superioritas suami dalam rumah tangga. Tidak butuh lagi pake mentang-mentang. Rumah tangga yg dibangun di atas tiang agama, pasti bakal memahami posisi masing-masing.
Lagian, tanpa ada dispesialkan juga pada dasarnya kita golongan suami telah khusus kok. Seperti martabak, yg telornya dua itu pasti khusus. Eeh sorry, tidak nemu perumpamaan yg lebih beradab. Wkwk..
Katakanlah gw sampel subyektifnya. Sepanjang gw dan istri bisa kerjasama untuk saat system shift, mengapa tidak? Jadi baby sitter part time tidak bakal bikin derajat jatuh, meyakini deh, tidak butuh diukur pakai termometer derajat celcius.
Kebetulan kami di dukung kondisi. Gw kerjanya malam, istri kerja pagi hingga siang.
Mengapa istri mesti bekerja?
Ya, lantaran suami tidak pernah tau bedanya lipstik 50k, serta... Plakkk!! Cukup.. Cukup.. Itu telah basi woy!
Pekerjaan istri gw sesungguhnya tambah lebih mulia. Waktu gw dirumah bertanggungjawab pada keselamatan dua orang anak, di waktu yg sama istri gw bertanggungjawab pada keselamatan beberapa puluh bahkan juga seratusan anak-anak.
Istri gw juru imunisasi di Puskesmas. Setiap hari nyuntik anak di posyandu-posyandu. Pernah sekali saat gw cobalah iseng temanin, serta satu hari saja gw nyerah. Hadapi anak orang nyatanya perlu kesabaran level expert. Anak sendiri jika dipelototin diem. Anak orang dipelototin eeh jadi nangis kejer, buat cemas.
Belum lagi tempat posyandu yg tidak sama. Ada yg medannya berat serta tidak dapat dijangkau kendaraan. Istri gw telah punya kebiasaan mendaki gunung, lalui lembah. Sungai mengalir indah ke samudera, berbarengan rekan bertualang.
Melindungi anak ada seninya. Belum sampai maqom seseorang lelaki sebelumnya rasakan dipipisin atau diberakin.
Cobalah katakan tantangan terekstrim yg menguji keberanian serta adrenalin seseorang lelaki. Selfie di ketinggian? Diving di kedalaman lautan? Umum itu mah..
Nah, cobalah berani tidak nyebokin anak dengan feses mencret atau mengisap ingusnya yg terhalang pakai mulut? Jika berani, baru gw jempol.
Anak yaitu tanggung jawab sekalian konsekwensi perkawinan. Janganlah nikah cuma ingin nikmatnya tidak ingin anaknya.
Melindungi anak mengajarkan kita kesabaran, serta dengan sendirinya bakal mengerti pola rutinitas. Istimewanya, kita dapat mengontrol sendiri perubahan anak, serta melatih insting dan kewaspadaan. Kewaspadaan ini yg paling utama, mengingat bahaya meneror jiwa anak setiap waktu.
Barusan membaca satu berita, seseorang bayi umur empat bln. di Medan mendadak buta sesudah difoto. Mata si bayi nampaknya belum kuat terima kilatan flash. Ini peringatan untuk yg suka photo selfie bareng bayi.
Di makassar lain lagi. Ada bayi baru lahir yg mendadak wafat dunia sesudah kaget mendengar nada petasan.
Ada pula berita di tivi, balita wafat selesai ngemut rambutan serta nyangkut di kerongkongan.
Terlebih dulu, gw sempat juga baca, bayi tewas dengan lidah melepuh sesudah menggigit-gigit ujung charger yg masihlah melekat di colokan tempat tinggalnya. Ujung charger yg lunak serta mudah dirusakkan nyatanya masihlah menghantar aliran listrik. Ini yg paling banyak diremehkan di rumah tangga. Tetangga gw jadi ada yg anaknya wafat dunia dengan muka tertimpa besi kaitan ayunan sesudah tali ayunannya lepas lantaran tidak diikat kuat.
Nyaris sehari-hari, kita disajikan kabar berita anak-anak celaka atau tewas lewat cara yg tidak umum. Ujung-ujungnya kelalaian pengasuh yg jadi pemicunya.
Nah, ini dapat yg buat gw cemas jika umpamanya anak gw mesti dijaga oleh orang lain. Meskipun maut mengintai tidak pandang bulu, sekurang-kurangnya insting orangtua pada darah daging terang beda dengan orang lain yg menjaganya.
Di sekitaran rumah gw sesungguhnya banyak tempat atau panti penitipan anak. Bukannya tidak yakin atau tidak ada anggarannya, namun rasa-rasanya tidak ikhlas saja membagi saat dengan orang lain sepanjang masihlah dapat menjalaninya.
Di kota-kota besar, beberapa orang setuju membuat arti quality time pada akhir minggu, membuatnya khusus, terkadang isi dengan rekreasi, untuk menutupi quantity time yg tidak dapat mereka berikanlah pada anak. Nah, saat kita di beri peluang untuk jadikan sehari-hari jadi quality time, ngapain disia-siakan?
Gw terkadang merinding memikirkan jika umpamanya anak gw titipkan di panti anak dengan argumen aktivitas, tidak ada jaminan nantinya di masa datang polanya bakal berulang, ubahan gw yg dititipkan juga di panti jompo dengan argumen anak-anak repot. Hiiiy.. Amit-amit.
Sesungguhnya tidak ada yg salah dengan panti penitipan anak. Toh ini banyak juga menolong. Namun sepanjang tidak ada udzur atau argumen yg membetulkan ya baiknya dihandle sendiri, mengingat saat kecil anak tidak terulang 2 x. Materi dapat di cari, namun peluang yg hilang pasti disesali masa datang. Hoanjrit.. Sok bijak banget ini orang. Wkwk..
Asumsinya, anak yaitu titipan Tuhan. Jika titipan itu dititipkan lagi, haiyya...
MASYAALLAH...!!! Loh, istrinya ke mana aja? Kok suami disuruh jaga anak? Begini Jawab Pria Ini...!!! MOHON DI BAGIKAN...!!!
Reviewed by cinta
on
21:14
Rating:
Reviewed by cinta
on
21:14
Rating:
